Newsflash
High Course Semarang menjadi salah satu Lembaga Bimbingan Belajar / Les Privat terbaik di Semarang. Pelayanan Prima menjadi andalan kami dalam mengambil hati para customer. |
Persewaan LCD Projector
Sewa Handycam
Kursus Website Cepat
| Jurus Anti Nganggur ! |
|
|
|
Salah satu pimpinan sebuah Koran lokal di kota saya pernah mengungkapkan bahwa “Pengangguran = Malas”.
“Ah, itu terlalu menyudutkan bagi kalangan pengangguran, mungkin banyak faktor yang menyebabkan dia (pengangguran itu) menganggur, siapa sih yang ingin nganggur”, kata teman di sebelah saya menyanggah.
Saya sendiri sependapat dengan pernyataan pertama tadi bahwa “Pengangguran sama dengan malas”. Pernah suatu ketika saya mendapat keluhan dari salah seorang teman saya yang mempunyai gelar pengangguran bahwa dia itu sebetulnya mau bekerja apa saja tetapi sayangnya dia tidak mendapat “kesempatan”.
Kesempatan macam apa pula yang dia maksud, seketika saya tanya kepada teman saya tadi, “Kamu sekarang punya uang berapa?”.
“Di dompet saya cuma ada Rp 15.000,00 dan hanya di dompet ini saya punya uang”, jawab teman saya.
“Oke, itu cukup buat modal” saya menimpali.
Saat itu juga saya minta uang teman saya yang tinggal Rp 15.000,00 itu, lalu saya ajak dia membeli sekardus air mineral gelas seharga Rp 13.000,00 per kardus, isi 48 gelas. Masih ada sisa Rp 2.000,00 saya minta kembalian recehan Rp 500,00 sebanyak 4 keping untuk jaga-jaga siapa tahu ada yang minta kembalian sewaktu saya jualan nanti.
Setelah itu saya ajak teman saya tadi ke Auditorium salah satu universitas ternama di kota saya yang saat itu sedang ada acara wisuda lulusan universitas tersebut. Sampai di sana, secepatnya saya buka kardus air mineral yang sudah kami beli tadi dan saya tawarkan kepada siapa saja yang saya temui di sana.
“Aqua-nya pak..., Aqua-nya bu…, mas…, mbak…, cuman Lima ratus perak” dst. (Saya kadang geli juga, padahal yang saya jual merknya bukan Aqua, tetapi di Indonesia umumnya orang menyebut air mineral kemasan adalah Aqua, apapun merknya…, Aqua luar biasa)
Dalam waktu kurang lebih setengah jam dagangan saya sudah habis terjual. Saya minta teman saya yang dari tadi melongo melihat saya jualan untuk membeli 2 kardus air mineral kemasan lagi. (Uang terkumpul Rp 500,00 x 48 gelas = Rp 24.000,00 ditambah sisa modal awal Rp 2.000,00. Total uang kami Rp 26.000,00 cukup dan hanya pas untuk membeli 2 kardus air mineral kemasan lagi).
Kali ini saya tidak jualan sendiri, saya minta teman saya juga ikut jualan. Bahkan kecepatan berjualan kami semakin bertambah karena kalau pada saat pertama saya jualan tadi jika ada yang beli satu gelas dan yang beli memberi uang Seribuan maka saya kembalikan Rp 500,00 tetapi sekarang karena uang kami habis untuk modal, apabila ada yang beli satu gelas maka saya arahkan untuk beli 2 gelas sekalian untuk persediaan karena kami betul-betul tidak mempunyai uang kembalian. Orang yang beli tidak keberatan karena cuma Rp 1.000,00 saja dapat 2 gelas.
Dalam waktu kurang dari 3 jam sejak saya jualan pertama kali, kami berhasil menjual habis 15 (lima belas) kardus, air mineral kemasan.
Mari kita analisa keuntungan, Total jualan 15 kardus (15 kardus x 48 gelas x Rp 500.00) = Rp 360.000,00 Modal awal = Rp 15.000,00 Keuntungan dalam waktu kurang dari 3 jam berjualan = Rp 345.000,00
Bisa juga dikatakan bahwa kami mendapat keuntungan sebesar 2.300% (dua ribu tiga ratus persen) dalam waktu kurang dari 3 jam berjualan.
Semua uang tadi (sebesar Rp 360.000,00) saya berikan kepada teman saya karena dia yang punya modal. Teman saya merasa senang sekali karena mendapat uang yang sangat banyak (minimal untuk ukuran dia), bukannya bilang terima kasih malah dia berkata kepada saya, “Besok kalau ada wisuda, kita jualan lagi ya…” @#$%^&*~????
Apabila teman saya tadi tetap menganggur dan hanya bisa jualan air mineral kemasan saja, maka itu sudah cukup untuk menopang hidupnya. Misal, dalam 1 minggu dia cari 1 saja acara yang keramaiannya setara dengan acara wisuda itu dan berjualan di sana, maka pendapatan dia dalam 1 bulan adalah :
Rp 345.000,00 x 4 minggu/bulan = Rp 1.380.000,00
Ada yang bertanya, “Lho…, Rp 345.000,00 itu kan hasil jualan 2 orang, kalau sendirian kan tidak sampai segitu pendapatan per bulannya?” Saya jawab : “Lho…, kan bisa ajak saudaranya, kakaknya, adiknya, pacarnya atau siapa saja”
Ada yang tanya lagi, “Kalau ajak orang lain kan keuntungannya harus dibagi dua, jadi pendapatan per bulannya tidak sampai segitu…?” Saya jawab lagi : “Ya jualannya seminggu jangan cuman sekali dong, coba, seminggu 2 kali, 3 kali atau tiap hari kalau mau jualan terus…, hitung sendiri pendapatan per bulannya”
Masih tanya, “Tiap hari apa ada acara wisuda atau semacamnya?” “Kalau anda mau cari, pasti ada”, “Kalau malas mencari, jualan saja di pasar, di sana kan selalu ramai alias selalu banyak orang”, saya melanjutkan.
Masih tanya juga, “Kalau memang hasilnya segitu banyaknya, kenapa para pedagang asongan itu tidak kaya-kaya?” Kalau pertanyaan yang terakhir ini masih saya jawab juga, berarti saya sudah ketularan stresnya orang ini...
Ditulis : M. Maulia Mansuri Email : Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya |






